SiBengak, sebenarnya seorang lelaki yg secara fisik tidaklah dapat dipandang bodoh, sebab disamping tongkrongan cukup lumayan, ditambah lagi atribut yg diselempangkan padanya yang seperti orang sukses, seperti Isteri yang lumayan cantik, anak-anak yang modis, rumah, kederaan belum lagi jabatan yang lumayanlah buat ukuran ekonomi orang biasa.

Entah bagaimanalah mulanya sehingga dia berpendapat “ternyata sesungguhnya saya hanyalah warna kebodohan..”, aku terperangah mendengarnya, bagaimana seorang yang lumayan nyaman sebagai teman diskusi, dengan pandangan yang tidak biasa, mengatakan dirinya “sesungguhnya bodoh”… begini tuturnya…


Saya berkumpul dengan beberapa teman, dan berdiskusi tentang Keagamaan, sebenarnya sepenjang berjalannya diskusi itu saya hanya diam, mendengarkan pandangan-pandangan yang mengalir, saya tidak tahu harus berkata apa, bahkan bertanya apapun saya tak tahu, pikiran dan mulut saya seperti di set untuk diam dan mendengarkan…bergulirnya pembicaraan berlangsung memasuki ranah Ketauhidan, kalimat Ketauhidan ini sebenarnya sudah pernah saya ketahui dari pengajian-pengajian, serta sedikit membaca seperti kitab-kitab karangan Imam Al-Ghozali, Ihya Ulumiddiin, Keutamaan Berfikir, Sahalat Khusu’, yang dua terakhir merupakan buku saku.
Sepulangnya, membuat saya menjadi merenung, bagaimana bisa mereka bercerita tentang Ketauhidan, sedang hal hal kecilpun saya engga mengerti, msalnya pertanyaan-pertanyaan apa sich sebenarnya tangan ini, kenapa ada yang lumpuh, ada yg tidak lumpuh sedangkan baik yg lumpuh maupun tidak lumpuh dilengkapi denga struktur yg sama, seperti otot, tulang, darah dll…
belum lagi tentang apa sich maksud perumpamaan nyamuk, semut atau yg lebih kecil, mengapa disebut sebagai perumpamaan, ..apalagi tentang kalimah :kemanapun engkau memandang disana Wajah Allah berada…” mana..mana…puyeng saya memikirkannya, tak jua jawaban saya temukan jawabannya…lalu saya berkeluh kesah, “Allah mengapa mereka bisa mengmbarkannya sedang saya, capek memikirkannya tetap tak menemukan jawabannya… duh memanglah manusia itu sungguh bodoh…”…ditengah keputus asaan itu datanglah kefahaman, bagai air yang mengalir mengguyur seluruh jasmani ini..timbullah kesadaran kefahaman maksud doa yang katanya sebaga do’a Nabi Adam, “..Robbana dzholamna Anfusana…”…karena diberitahulah maka datang tahu…. Alllahu Akbaar…

Lalu datang pulalah gambaran nyata, mengapa manusia disebut bodoh…, namun mengapa manusia merasa pandai…

itulah cerita SiBengak menemui Atribut Kebodohan… Wallahu ‘a’lam…