Pernahkah terbaca olehmu surah Al Hujuraat 14, yaa… yang menggambarkan bahwa Rasulullah SAW, dikabarkan Allah bahwa akan datang kepadanya Arab Badui, yang akan mengatakan bahwa mereka sudah beriman, di ayat itu, Allah juga mengajarkan/ memberitahukan kepada Beliau bahwa mereka itu belum beriman, namun sudah tunduk, sebab Iman belum meresap pada hati mereka…

Tunduk atau bahasa AQnya “Aslamah”, yang ternyata masih terpisah dari “beriman”, lantas apakah kita sudah memasuki “ketundukan”..???, bagaimana kita menyadari ketundukan itu sudah berada pada diri kita, apa lantaran Bapak/ Ibu kita tercatat di KTPnya Agama : Islam, lantas pada saat kita mulai diperkenankan ber KTP, serta merta juga mencatatkan demikian…apa iya.. semudah itu..sementara belum tentu juga si orang tua, maupun si anak adalah orang-orang yang sudah tunduk…(maaf ya..sebab di Al-Hujarat 14, itu mengenai sudah tunduk tidaknya Allah yang memberitahukan kepada Nabiullah Muhammad SAW, dan mungkin perlu kita ingat bahwa bangsa Indonesia, bahkan bukan Arab, jadi ini sekedar mengingatkan bahwa ayat itu bukan sekedar untuk Arab Badui, dan Arab Badui itu hanya “Perumpamaan”)

Ayo..dech..kita merenungi hal ini…, sebelum kita terlena virus rasa aman bahwa kita sudah dalam kategori tunduk, mari kita mulai dengan membayangkan suatu peperangan dalam perebutan kekuasaan…, setelah sekian lama bertempur yang tidak sedikit memakan korban,,mungkin salah satu dari 2 kubu akan menyerah…apakah benar menyerah berarti sudah tunduk…, mungkin belum ya…sebab menyerahnya salah satu kubu tadi, pastilah diuji lagi oleh kubu yang menang, apakah benar-benar menyerah atau hanya siasat saja….setelah rasa aman ada maka dibuat lagi suatu strategi untuk menghancurkan lawan…lha berarti belum menyerahkan namanya…belum tunduk pada kekuatan lawan….lihat saja ummatnya Nabi Musa AS, padahal mereka benar-benar menyaksikan Kebesaran yang maha dahsyat, laut merah terbelah, dan mereka berjalan diantara gelombang yg tertahan, ..apa yang terjadi sesudah itu..mereka membuat patung sapi emas untuk disembah…

Lho kan ini beda, masak beragama, disamakan dengan perebutan kekuasaan…, yah…demikianlah Allah menggambarkan segala sesuatu dengan perumpamaan…namun apakah kita menyadarinya..???, itulah mengapa Allah mengajarkan kepada kita agar kita bertafakkur…merenung yang dalam…sedalam-dalamnya….selesai satu, lanjut yang lain…terus demikian…bukankah Allah menggambarkan demikian pada AQ Al Insyiqaaq 19.., dan diperumpamakan juga dengan tubuh kita yang bergerak dari bayi sampai kita keriput bongkok..yang entah kapan tersadari oleh kita kapan tubuh ini dirasakan mengembang, koq yang dulunya bayi, beberapa saat sudah sekolah dasar, SMP, dst…membesar…apakah pernah kita rasakan tulang tangan kita memanjang…??? nah demikianlah yang terjadi jenjang pengetahuan yang mengiramai jiwa kita,

Sesungguhnya Allah akan memberitahukan kepada Jiwa itu hal ketundukan ini, sebab jika Allah hendak memahamkan Manusia maka Allah akan mengilhamkannya melalui Jiwa/ hati.

Kenalilah Jiwa dengan bertafakkur, sehingga mengenal diri akan diri, dan diri akan Tuhannya..

Begitulah tutur SiBengak, Wallahu a’lam